Pada suatu hari sebuah gereja membuka lowongan penerimaan pendeta baru. Banyak surat lamaran masuk kepada majelis gereja tersebut. Rapat majelis pun berjalan ketat menyeleksi surat satu demi satu. Mereka saling beradu argumentasi tentang siapa yang pantas untuk dimasukkan dalam daftar calon pendeta.
Salah satu anggota majelis berdiri dan membuka sebuah surat yang menurut dia cukup menarik. Dia berdehem keras untuk mengambil perhatian rapat “ehem, maaf, tapi saya rasa surat ini cukup menarik dan akan saya bacakan”.
Salam dalam kasih YESUS saudara-saudaraku.
Saya mendengar bahwa gereja saudara membutuhkan seorang pendeta, saya pun memberanikan diri untuk mengajukan diri dan menulis surat lamaran ini. Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri, saya adalah seorang hamba TUHAN, saya pernah terlibat beberapa kegerakan anarki dan radikal, dalam aksi yang saya jalankan saya pernah menyebabkan keributan besar, saya pun pernah beberapa kali diajukan dalam pengadilan, walaupun akhirnya mereka tidak menemukan kesalahan pada diri saya. Saya terkenal keras dalam memimpin anak-anak rohani saya, walaupun saya jarang bertemu mereka. Sebagai catatan tambahan saya adalah seorang pelupa, bahkan saya sering lupa siapa saja yang pernah saya baptis.
Demikian surat lamaran saya, atas perhatian anda saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Saat itu langsung terjadi keributan besar di ruang rapat. Banyak suara yang menentang orang yang mengirim surat itu.
“Gila, bagaimana mungkin orang itu berani mengirim lamaran kepada kita, sedang dia mempunyai catatan buruk sebanyak itu!”
“Bayangkan, dia seorang residivis, beberapa kali masuk pengadilan, dan berbagai kekurangan lainnya”
Saat itu majelis yang membacakan surat itu memotong pembicaraan, dia berdiri ke arah ketua majelis dan memberikan surat itu kepada ketua majelis sambil sedikit berbisaik. Kemudian sang ketua majelis itu berdiri dan berkata.
“Saudara-saudara, saya memahami keberatan saudara, tapi tahukah saudara surat ini ditandatangai siapa?”
Anggota majelis yang lain pun saling berpandangan kebingungan satu sama lain, ketua majelis pun berbicara lagi
“ya, surat ini ditanda tangani oleh Rasul Paulus”
Seringkali kita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para majelis tersebut dalam memandang hamba TUHAN. Kita memberikan prejudice hanya karena apa yang kita lihat di depan mata kita. Seringkali kita menghakimi orang lain hanya berdasar pandangan obyektif kita dan dari cerita-cerita orang lain *yang sebenarnya juga tidak mengenal dengan baik visi yang diemban hamba TUHAN tersebut*. Kita hanya memandang sebatas apa yang kita pahami, dimana pandangan tersebut seringkali dilandaskan pada pengetahuan kita dan pengalaman pelayanan kita yang sangatlah terbatas.
Dalam cerita di atas penghakiman sudah terjadi. Para majelis itu menghakimi orang yang mengirim surat itu tanpa lebih dahulu mencoba memahami pandangan-pandangannya dan kedekatannya dengan TUHAN. Para majelis itu hanya berpikir bahwa orang itu diajukan di pengadilan karena dia terlibat kejahatan. Mereka memandang orang itu adalah orang yang anarki dan radikal hanya karena aksi yang dijalankannya, bukan pada latar belakang aksi yang dilakukannya.
Tidak jarang, malah sangat sering dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan hal tersebut, jadi marilah kita instropeksi diri kita masing-masing, lihat dalam diri kita. bayangkan betapa malunya kita jika kita terlanjur memberi prejudice negatif pada seseorang, padahal orang yang sedang kita hakimi itu adalah orang yang dikasihi TUHAN…
Well…semoga dapat memberkati kita semua….TUHAN YESUS memebrkati…:)
Posted in Uncategorized | 1 Comment »